Rahasia hati tak dapat diungkapkan begitu saja, tanpa ada hal - hal yang mewajibkan untuk mengungkapkannya. Namun dengan teknologi yang ada saat ini, kita tak perlu mengungkapkan suatu hal dengan lisan, namun dapat dengan tertulis seperti halnya di berbagai media sosial.
Nah, salah satu media sosial blogger inilah yang gue manfaatin sebagai media buat nulis, ya cerpen gitu dech. Namun tulisan gue masih ala kadarnya, maklum masih amatir. Silahkan membaca...
LUBANG
DARI PISAU KECIL
Dalam
dunia Bisnis orang rela melakukan apapun. Tak pandang kawan maupun lawan, semua
dianggap sebagai saingan yang dapat menyerang kita kapan saja. Itulah dunia bisnis bagi kebanyakan orang.
Tapi ada juga yang menganggap bisnis bukan hanya sekedar mencari uang atau
keuntungan namun sebagai ajang mencari relasi atau teman.
Aku
Dwi seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan. Awal mula aku masuk di
Perusahaan tersebut, tak banyak teman yang kukenal hanya beberapa. Aku ditempatkan
dibagian yang rata – rata ditempati oleh orang – orang yang sudah mempunyai
title (D3/S1), hanya aku yang lulusan SMA. Tapi aku coba untuk tak
memperdulikan hal tersebut dan mencoba untuk membaur dengan mereka, toh mereka
tak mempermasalahkan hal tersebut. Namun hari demi hari kulalui di tempat ini,
akhirnya aku bersama dengan tim yang lain, aku harus beradaptasi kembali.
Akupun mencoba membaur kembali bersama mereka. Suatu hari aku berbincang –
bincang dengan rekan dalam tim tsb.
“ka Rina lagi apa???” Tanya aku,
“lagi ngerjain tugas yang dikasih Bu Yani neeh” Jawab Ka
Rina
“boleh aku liat gak ka??, sekalian aku belajar!!” pintaku.
“hmmm… boleh!!”jawab ka Rina. “wi tw
gak klo ka Ana, Ka imel, Ka tyas dan Ka tio itu anak – anak lulusan D3, bahkan
Ka Mira itu lulusan S1“. jelas ka rina.
“ough gitu ya ka!”jawabku.
Mendengar
kata – kata yang keluar dari mulut ka Rina membuat hatiku perih, seolah teriris
pisau kecil namun dapat membuat lubang yang sangat dalam. Walaupun aku sudah
tahu hal itu, tapi kata – kata yang keluar dari mulut ka Rina membuatku menjadi
orang yang rendah dihadapan mereka. Dan seolah – olah kata – kata itu dapat
diartikan kalau aku tak pantas bersama mereka. Kata – kata itu tak pantas
keluar dari sosok ka Rina seorang sarjana yang berparas cantik. Kemudian,
hari-hari kulewati tanpa menghiraukan kata- kata itu. Kata – kata itu
kujadikan penyemangat dalam setiap
langkah yang kuambil. Dan kubuktikan bahwa walaupun aku seorang anak yang hanya
lulusan SMA dapat mengerjakan apa yang mereka kerjakan bahkan dapat lebih baik.